
Dok. Thinkstock
Putus cinta adalah hal yang menyakitkan bagi setiap orang. Kesal, marah, merasa kesepian dan terasingkan merupakan perasaan yang wajar dirasakan setiap orang setelah putus cinta.
Sama seperti fase pacaran (kenalan, pendekatan, kencan, menjadi kekasih), putus cinta pun memiliki tahapan atau fasenya sendiri. Setiap orang pasti mengalaminya setelah putus cinta dan itu sangat wajar. Pastikan Anda bisa tegar melewati setiap tahapnya, dan hidup baru yang lebih baik akan bisa diraih.
Berikut ini enam fase yang akan Anda alami setelah putus cinta, dan tips mengatasinya, seperti dikutip dari She Knows.
Fase Pertama: SyokSaat jalinan asmara berakhir, mungkin Anda akan syok, merasa tidak sanggup menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya. Bingung, merana, sakit hati dan takut kesepian biasanya dirasakan saat fase ini. Perasaan itu bisa saja berlangsung hanya satu menit, tapi juga bisa seminggu bahkan berbulan-bulan; bila putus cinta terjadi secara mendadak. Secara fisik, mungkin Anda akan mengalami sulit bernapas dan tidur tak nyenyak.
Jangan terburu panik jika mengalami hal-hal di atas. Terkejut atau syok merupakan reaksi alami, sebagai perlindungan tubuh dari rasa sakit. Untuk mengurangi keterkejutan dan depresi, cobalah tenangkan diri dengan meditasi atau berjalan-jalan di sekitar kompleks rumah, taman kota dan kawasan hijau lainnya.
Fase Kedua: Penyangkalan"Tidak, ini tidak benar-benar terjadi". Mungkin kata-kata itu yang terlintas dalam pikiran ketika masih diliputi kesedihan karena putus cinta. Anda berusaha menolak keadaan yang sebenarnya, dengan harapan masih bisa kembali pada sang kekasih. Pada fase ini, biasanya seseorang yang baru putus cinta masih sering menelepon, mengirim e-mail, melakukan chat online atau memata-matai mantannya lewat Facebook.
Terimalah keadaan bahwa Anda dan pasangan sudah tidak bisa lagi bersama. Ada baiknya mencari orang (bisa keluarga atau sahabat) agar bisa melampiaskan semua yang Anda rasakan. Tidak usah berusaha tegar atau tenang. Memendam perasaan hanya akan membuat Anda semakin emosional dan terperangkap dalam perasaan tidak menentu.
Fase Ketiga: MenyendiriMeskipun perlu dorongan dari teman atau orang terdekat untuk tetap optimis melangkah ke depan, ada kalanya Anda ingin menyendiri. Enggan bertemu teman, malas datang ke acara-acara khusus atau coba menghindar dari orang-orang yang Anda kenal.